20.52

Setiap orang pasti pernah mengalami masa sulit dalam hidupnya... termasuk saya, hari ini adalah masa sulit yang saya alami dan untuk kesekian kalinya ini terjadi lagi. Mungkin saya pernah mengalami situasi lebih parah dari ini, so biarkanlah ini berlalu dengan sendirinya.
Saya merupakan salah seorang manusia yg amat sulit untuk menceritakan sebuah kejujuran terutama sesuatu yg terjadi pada diri saya. Mungkin tidak untuk mengutarakannya secara langsung, entahlah rasanya sangat berat dan tidak mudah mengutarakan sebuah perasaan, keadaan dan kejadian atau sebagainya. Bukan karna tanpa ada alasan. Ya saya memiliki alasan mengapa saya seperti ini. Everything happen for a reason, right?
Terlalu menyembunyikan diri dan menjadi pribadi yg berbeda untuk orang lain? Mungkin. Seperti saya tidak ingin menunjukan diri seperti apa saya sebenarnya. Bahkan pernah beberapa waktu saya berbohong agar mereka senang...
Pernah suatu waktu saya mengenal seseorang yg disebut dengan sahabat, 6tahun kami bersama. Menurut psikologi pertemanan yg terjalin selama 6tahun atau lebih ada kemungkinan pertemanan itu terjalin selamanya... kurang lebih seperti itu, percaya atau tidak mungkin dia harus merevisi kembali kutipannya.
Fakta yg terjadi... dulu saya pernah percaya dengan seseorang yg disebut sahabat. Apapun saya bagi dengannya, apapun. Sampai akhirnya dia membagi bagiannya pada orang lain, mengerti maksud saya? Jika belum, silahkan baca kembali. Karna saya tidak suka mengulang 2x.
Kecewa sudah pasti, karna kepercayaan lebih dari apapun untuk saya.
Menyesal sudah jelas, mengapa saya sebodoh itu percaya dengan dia yg disebut sahabat.
Marah, janganlah bertanya. Sampai akhirnya saya pergi meninggalkan dia si sahabat.
Ya... saya dikecewakan oleh kepercayaan.
Cukup lama untuk menjadi lebih baik sejak itu terjadi, baik pikiran dan perasaan. Saya fikir waktu memperbaiki segala yg telah terjadi dengan harapan saya bisa seperti dulu. Tapi beruntunglah saya, apa yg pernah terjadi.. secara otomatis diri saya membangun bentengnya sendiri, semakin lama semakin tebal dan tinggi.
Saya seorang pendendam, ya itu memang tidak baik tapi itulah kejujuran pertama yg saya ungkapkan disini. Tapi saya tidak membalas apapun yg dia, sang sahabat atas appa yg terjadi saat itu.
Saya pernah ada dititik tertinggi depresi, mau tau apa yg telah terjadi selama saya ada situasi tersulit kedua dalam hidup saya???
Bunuh diri.
Ya bunuh diri.
Disaat semua terasa gila, tidak beraturan dan ada cara cepat untuk mengakhirinya terlintaslah bunuh diri dibenak saya. Jangan tanya kapan hal itu terjadi...
Butuh waktu 4hari untuk menghilangkan keinginan itu, kamu fikir ini cerita fiktif dan karangan bebas? Tidak. Ini kejujuran kedua yg saya ungkapkan disini, jadi bersabarlah.
Bagaimana bisa keinginan itu muncul? Apapun bisa terjadi ketika setan lebih kuat dari iman, mau tau apa yg terjadi sebelumnya?
Saya broken home, itu bukan kejujuran karna beberapa orang sudah mengetahuinya.
Apa kamu tau bagaimana rasanya jauh dari orang tua sejak kelas 3 sekolah dasar? Percayalah itu tidak menyenangkan. Jadi bersyukurlah jika kamu masih bersama orang tuamu sampai saat ini.
Berantakan. Pergi sendirian sampai pagi? Ya saya pernah melalui itu. Tapi saya tetap anak baik yg beradab. Saya tidak terperangkap pergaulan bebas seperti anak broken home lainnya. Beruntunglah saya.
Keinginan bunuh diri ada saat orang tua saya, mereka menikah lagi. Apa yg saya fikirkan?  Bagaimana perasaan saya? Marah. Saya menangis karna marah yg meledak- ledak dalam diri saya.
Apakah saya akan hilang dari kehidupan mereka? Apakah mereka tidak menginginkan saya lagi? Dan masih banyak pertanyaan lainnya sampai mental saya berperang.
Lalu muncul keinginan bunuh diri.
Ada 1 alasan yg menguatkan keinginan saya untuk bunuh diri. Saya tidak diinginkan lagi.
Keluar masuk dapur... kamu pasti mengerti apa yg saya lakukan bukan?
Menangis tengah malam, bolos sekolah, hampir dikeluarkan karna nilai dan absen... Ya itu tidak mudah.
Siapa atau apa yg mengurunkan niat bunuh diri itu? Diri saya.
Saya berjuang sendirian, tanpa orang tua dan sahabat. Benteng yg sudah terbangun benar- benar bekerja, menahan diri dan sabar jawabannya.
Masih ingat saya seorang pendendam? Ya saya lampiaskan segalanya lewat olahraga, mulai dari voli, renang, parkour, lari, gymnastic pernah saya lakukan. Ajaibnya hal itu berfungsi sampai keinginan bunuh diri itu hilang.

Saya pernah sakit asma, seiring berjalannya waktu asma itu bisa saya taklukan.
Jika kamu ingin menjalani hidup seperti saya tanpa tau masa lalu saya seperti apa. Jujur, lebih baik kamu besyukur dengan hidupmu. Karna jika kamu jadi saya, kemungkinan kamu sudah bunuh diri.

Pernah kamu merasa dunia dan isinya pergi menjauh dari kamu? Percayalah itu hanya perasaanmu saja, jangan pernah mencoba untuk pergi meskipun kamu ditinggalkan. Bertahanlah.

Hari ini titik terberat dan tersulit.
Keinginan untuk pergi jauh, bahkan bunuh diri itu muncul lagi... hal ini baru berjalan 2hari.
Kesulitan untuk tidur, menjadi orang pemarah, kehilangan nafsu makan sedang terjadi pada saya, kejujuran lainnya adalah saya tidak peduli kamu peduli atau tidak. Hanya jangan ganggu saya untuk sementara waktu sampai semuanya baik- baik saja.
Banyak waktu terbuang ketika depresi ini kembali.
Ini akan berakhir. Saya percaya akan itu.
Tapi sayangnya keinginan bunuh diri itu belum hilang, bahkan semakin kuat.
Saya tidak ingin melakukan apapun, menghabiskan waktu untuk tidak melakukan apapun mungkin cara yg saya pilih saat ini.
Menghindar dari orang- orang yg peduli dengan saya.
Membuat mereka pergi.
Membuat mereka marah atas diri saya.
Itulah yg terjadi. Bahkan beberapa dari mereka benar- benar pergi. Entah kembali atau tidak. Biarkan saja.
Percayalah, sayapun tidak ingin ini terjadi. Tetap bersama saya. Karna saat ini saya tidak bisa menguatkan diri saya sendiri.
Saya berusaha untuk tetap tinggal meskipun sulit. Ini kejujuran dari segala yg terjadi beberapa hari belakangan.
Saya lelah, marah, sedih entah karna apa.
Jangan pergi.


Categories:

Leave a Reply

#navbar-bawah img { /* margin: 0px 0px -8px 0px; */ vertical-align: middle; }