JO
Bukan untuk pertama kalinya aku seperti ini. Tubuhku lemas dan aku hanya terdiam menatap kosong langit- langit kamarku. Ini bukan yang pertama tapi mengapa rasanya sama dan tak ada beda? Tanya ku dalam hati. Ku hembuskan nafas sekeras mungkin, kemudian aku terduduk dan aku masih terdiam dan tidak percaya dengan apa yang aku ambil ini. Ingin rasanya aku menangis tapi tak mampu, ku coba untuk tegar tapi dada ini sakit. Bukan karna tertusuk tapi entahlah yang pasti ini sakit. Ku baringkan kembali tubuhku dan berusaha untuk tidur tapi tak bisa, ku ambil hpku dan ku baca kembali apa yang telah aku ketik disana. Aku berdoa semoga ini yang terbaik untuk aku dan dia. Namanya Jo sudah 1 tahun aku bersama dengannya, bukan pacar, bukan tunangan apalagi istri. Kami hanya berteman dengan status lebih dari teman namnun tidak kurang dari pacar, apapun yang kamu fikirkan tentang ini anggaplah kamu mengerti dengan apa yang aku maksud.
Ini tidak mudah dijelaskan, bakhan ketika aku mencurahkannya disini rasa sakit itu semakin menjadi dan kamu pun belum tentu mengerti meskipun kamu pernah mengalami hal seperti ini, lebih parah atau tidak. Aku menyayanginya dan mungkin dia pun begitu. 1 tahun bukan waktu yang singkat bukan? Ya. Dengan sembunyi- sembunyi mungkin hanya kami yang tahu. Beberapa kali aku coba untuk pergi darinya, tapi aku selalu kembali. Seperti rumah, sejauh apapun dan kemanapun aku akan kembali kerumah. Tempat ternyaman dari apapun. Ada 1 yang harus kamu ketahui sebelum aku lanjutkan cerita ini lebih jauh, Jo sudah memiliki pacar. Lebih lama dari aku sekitar 4tahun Jo bersama dengannya. Aku datang atau dia datang disaat yang tidak tepat. Aku mengerti mungkin ini tidak mudah untuknya dan untukku. Ketika dia harus memilih aku atau dia, tapi yang aku yakini adalah dia tidak akan mungkin memilihku.
Kamu mulai bingung? Aku akan perjelas sedikit demi sidikit, bersabarlah. Mungkin aku hanya tempatnya ketika dia bosan. Tapi haruskah selama itu? Maybe yes maybe no. Aku pernah memintanya berjanji untuk pergi dan jangan mengganggu aku namun Jo selalu kembali, mungkin dengan alasan yang sama denganku. Aku pernah menangisinya tapi kamu pasti terkejut dengan pernyataanku ini, dia pernah menangisi aku juga ketika aku memutuskan pergi darinya. Cukup lama sekitar 2 bulan, aku mulai terbiasa tanpa dia. Tapi semua itu berbalik dengannya. Tiada hari selama 2 bulan dia terus memberi aku kabar, dia sering mengirim aku teks lewat whatsapp atau meneleponku. Saat bertemu pun dia selalu menyapa bahkan berusaha mengajakku berbicara. Tapi aku tidak, aku mengacuhkannya.
Mataku masih tidak bisa untuk dipejamkan, kemudian aku bangkit dan membuka laptopku. Ku curahkan segalanya disana.
Terkadang aku menyalahkan diriku sendiri, mengapa dia datang dan menerimanya masuk kedalam hidupku atau mengapa aku harus mengenalnya jika harus seperti ini??? Beberapa kali kami bertemu bahkan hangout. Sushi adalah makanan kesukaannya, kami selalu makan ketempat itu bersama. Terkadang aku tersenyum ketika mengingat senyum dan tawanya, kata- kata dan cara berbicaranya, mata dan tatapannya, wajahnya dari samping ketika dia menyetir, tangannya yang beberapa kali mengusap wajahku untuk tidak menatapnya terus menerus. Ah aku merindukannya. Sungguh aku merindukannya.
Stop aku tidak boleh seperti ini.
Aku tidak boleh merindukannya.
Alarm berbunyi, kutengok sudah jam 5 pagi. Ku lihat laptopku masih menyala, ku kira itu hanya mimpi. Ternyata benar ini nyata, ku baca kembali tulisanku disana. Aku tersenyum dan menutup laptopku.
Seperti biasa dari hari senin- jumat aku harus bekerja. Memulainya sejak pukul 5 pagi dan berakhir pukul 5 sore. Sangat membosankan.
Dari kejauhan aku hafal tubuh itu, dia tersenyum dari kejauhan namun terlihat samar- samar. Aku lupa memberitahumu, mataku minus dan silinder. Jika kamu sama denganku maka kamu faham betul bagaimana rasanya melihat seseorang dari kejauhan.
Aku bertemu dengannya pagi ini, agak sungkan dan... kaku, seperti tidak mengenal satu sama lain. Lucu? Ya, sangat lucu. Dulu kami sangat dekat namun sekarang? Layaknya orang terkena amnesia. Rasanya sangat tidak enak, seperti ada yang janggal. Tidak lama hpku berbunyi. Jo mengirim pesan lewat whatsapp. Aku abaikan.
Tak terasa sudah lama kami tidak berkomunikasi. Yang sekarang berbeda, 1 minggu terakhir dia tidak lagi mengirimi aku pesan bahkan tidak lagi meneleponku. Mungkin dia merasa aku sudah benar- benar tidak lagi peduli dengannya. Semoga saja. Masih bingung? Mari kita mundur beberapa saat kebelakang sebelum ini terjadi..
Beberapa waktu lalu kami bertemu, aku marah saat itu. Marah karna dia tidak jujur. Mungkin kalian bertanya kebohongan apa yang dia buat sehingga membuat aku marah??? Sesuatu yang seharusnya tidak dia lakukan, sesuatu yang dia elakkan ketika perasaanku berkata tidak mungkin dia tidak melakuan itu. Dia selalu berkata tidak ketika aku bertanya dan aku coba mempercayaianya untuk waktu yang lama. Aku terus memojokkannya dan tidak bisa mengendalikan amarah ku. Ku lihat dia mulai terpojok dan terlihatlah bagaimana dia sebenarnya. Mungkin sudah habis kesabarannya. Malam itu kami bertengkar, dia berteriak dan begitu pula aku. "Kamu gak ada hak buat marah atau ngatur aku" kata- kata itu yang membuat aku bungkam dan berfikir "Ya untuk apa aku marah?".
Aku terdiam untuk waktu yang lama sementara Jo masih berbicara dengan nada tingginya. Menyakitkan bukan? Aku memintanya untuk diam dan mengantar aku pulang dan dia mengiyakan. Tidak ada kata dari kami, kami hanya terdiam. Dalam diam aku berfikir dan mencoba menerima jika Jo adalah seorang pemabuk. Aku tipikal pemilih dalam berteman, karna teman merupakan pembentuk karakter diri selain keluarga. Aku tidak menyangka. Sejak malam itu hingga saat ini aku mulai menjaga jarak dan memutuskan untuk pergi darinya.
Bukan hal yang mudah ketika kita harus memilih pergi dari orang yang kita sayang, tapi dengan alasan tertentu meninggalkan bisa jadi pilihan terbaik ketimbang bertahan. Bukan cuma aku mungkin yang sakit bisa jadi dia pun begitu, bagaimana aku tahu? Berulang kali dia bilang jika dia menyayangiku, akan tetapi semakin dalam rasa itu ada maka kami akan semakin tersiksa. Jujur saja dalam keadaan macam ini wanita yang lebih dirugikan. Apa aku egois karna memilih meninggalkan Jo? Tentu tidak. Apa Jo egois? Bisa jadi, tapi aku tidak bisa menyalahkan dia sepenuhnya.
Mari... akan aku ajak kamu mundur kebeberapa waktu lalu, waktu ketika aku menangis didepannya...
10hari terakhir keadaan mentalku sedang tidak baik, terlalu banyak tekanan yang aku alami mulai dari tuntutan kerja, kuliah dan Jo. Aku setres. Disaat yang sama aku dan Jo bertengkar. Aku yang memulai, harusnya aku tidak tersinggung dengan candaannya. Candaan yang biasa dia lakukan untuk menghiburku disaat seperti ini. Keesokan malamnya aku mengajak Jo bertemu, seperti biasa dia menyambutku dengan ramah, senyumannya yang biasa meredakan amarah kali ini tidak bekerja. Sepanjang jalan aku hanya diam dan kadang sibuk dengan hpku sendiri, beberapa kali dia mengajakku bicara namun aku tak menghiraukannya. Berkali- kali dia meminta maaf dan berkali- kali pula aku acuhkan. Aku jahat. Dia mengajakku ke tempat sushi, kami tidak makan dan hanya memesan minum. Untuk kesekian kali dia bertanya "ko diam saja, kenapa?" Dan untuk kesekian kalinya aku hiraukan. Dia sama sekali tidak marah, senyum itu tidak pernah lepas dari wajahnya.
Aku memintanya untuk mengantarku pulang, padahal baru saja kami sampai ditempat itu. Ditengah perjalanan dia berbicara panjang sekali, aku diam tapi aku mendengar apa yang dia ucap. Dia meminta maaf karna telah melibatkan aku dalam hubungannya, dia tidak bisa memilihku tapi dia menyayangiku. Aku menangis, ingin kubalas ucapannya tapi setiap kali aku coba berbicara mataku semakin basah. Dia menghentikan mobilnya dan memelukku sembari meminta maaf. Aku menangis sejadi- jadi. Dia terenyuh melihatku menangis, mungkin dia mengerti bila menangis tidak mudah dilakukan jika kamu tidak benar- benar menyayanginya. Dia terus memintaku untuk tidak menangis, semakin jadi tangisanku semakin erat dia memelukku.
Can u feel it? Ketika kamu tidak bisa menuntut dia lebih dari sekedar teman. Ceritanya mungkin akan berbeda jika dia memilihku. Mungkin aku tidak akan menangis. Tapi yasudahlah ini cerita hidupku. Tak perlu disesali, jadikan saja pelajaran.
Sejak 8 Juli aku bersama dengannya. Entahlah apa yang membuat aku yakin dengannya dan menjalani segalanya hingga selama ini, akan sulit dijelaskan dan akan sulit dimengerti bahkan akupun bingung. Semua berawal dari teman dan berakhir jadi teman. Segala yang terjadi biarlah kami yang tahu, biarlah kami yang ingat, aku tidak perlu menceritakan segalanya disini, karna aku yakin tempat ini tidak akan cukup menampung cerita kami, dan mungkin kamu akan bosan membacanya sampai akhir...